"Tek-Tek Prus"
tradisi "Tek-tek Prus" desa pakraman Putung
istilah "tek-tek"
diartikan sebuah suara/bunyi yang berasal dari sebilah genteng bambu nantinya
di ketokkan 3kali pada masing-masing pelinggih dan apit lawang, ketukan genteng
bambu itulah yang nantinya akan mengeluarkan bunyi "tek-tek" yang
mengumandangkan sebuah tabuh/gambelan berirama, dan istilah "prus" dalam
bahasa bali diartikan mesimbuh (menyemburkan), adapun sarana dalam mesimbuh ini
diantaranya : mesui, kesuna, jangu ketiga sarana ini nantinya disebut
dengan tri ketuka tiga kekuatan yang nantinya mampu menetralisir daripada
kekuatan jahat, selain dari sara tersebut diatas adapun sarana yang mesti harus
dilaksanakan seperti :
1. daun sikapa (kelopak tiga)
2. daun bambu
3. duri pohon gung-gung/pandan melambangkan senjata para
bhuta kala
4. Pamor/kapur
sirih ( untuk membuat tampak dara pada daun sikapa).melambangkan swastika yang dipercaya sebagai pembalik adharma
menjadi darma
5. prakpak (dari daun kelapa kering)
daun sikapa(sudah diolesi pamor/kapur), daun bambu dan duri gung-gung diikat jadi satu, setelah itu diletakkan pada masing'' rong pelinggih atau apit lawang, lalu menghaturkan canang sari dan segehan sambil membunyikan gentengbambu dan membawa prakpak.
Setelah seluruh upacara ini
dilaksanakan maka sarana tersebut dibuang pada “lebuh” (deoan pintu rumah pekarangan)
yang merupakan nistaning mandala, dan menjadi symbol surganya para kala
sehingga dapat disipulkan upacara ini adalah untuk mengembalikan bhuta kala
pada asalnya atau untuk nyomia bhuta / menghilangkan sifat2 kebhuta kalaan yang
didasari rasa iri hati, dengki, amarah, dan godaan bhuta lainnya.
tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya oleh para
krama desa pakraman putung, banjar dinas putung, desa duda timur, kecamatan selat, kabupaten karangasem yang tepatnya tiga hari
sebelum usaba dalem (usaba dodol).



om swastyastu, mohon informasi apakah ada sumber/literasi kajian tentang Tri Ketuka? suksma. jika ada mohon informasi tyang di email bayu.somantara10@gmail.com
BalasHapus